Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sikap. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 April 2015
sikap konsisten
Dalam menegakkan hukum, perlu sikap konsisten. Agar negara-negara yang
merasa super itu tidak selalu memandang sebelah mata. Apalagi mengancam
memutuskan hubungan diplomatik. Seolah negara kita bisa diatur-atur
seenak mereka. Butuh keputusan tegas, dan tetap dijaga. Saat kita
konsisten, saat itulah kekuatan itu muncul. Ini adalah kedaulatan
sebagai negara merdeka. Hukum kita telah dijaga Undang-undang Dasar.
pelanggaran HAM
Heran juga rasanya mendengar argumentasi pakar hubungan internasional
itu. Dalam sebuah sesi dialog di televisi swasta, pendapatnya
seolah-olah mencampur-adukkan antara pelanggaran HAM dengan eksekusi
mati, dengan mengatakan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara
pejuang hak asasi manusia di ASEAN. Apa hubungannya juga. Bukankah
pelanggaran HAM itu adalah menghilangkan nyawa orang tanpa sebuah proses
hukum. Sedangkan eksekusi sudah melalui proses hukum yang panjang, dari
pengadilan tinggi sampai Mahkamah Agung, serta juga dengan memberikan
hak pengajuan PK.
Cocok juga dengan pendapat pakar yang lain, bahwa jangan sampai media memposisikan terpidana mati itu sebagai seolah-olah pahlawan yang sedang dihukum. Berita yang dihadirkan di televisi seharusnya berimbang, dengan memberitakan juga korban-korban narkoba yang meregang nyawa.
Cocok juga dengan pendapat pakar yang lain, bahwa jangan sampai media memposisikan terpidana mati itu sebagai seolah-olah pahlawan yang sedang dihukum. Berita yang dihadirkan di televisi seharusnya berimbang, dengan memberitakan juga korban-korban narkoba yang meregang nyawa.
tunda hukuman mati
Presiden tunda hukuman mati thd mary jane dgn alasan
1. laporan dari filipina proses hukum sedang berjalan shg hrs dipastikan org ini mendapatkan keadilan
2. presiden mendengar dari berbagai kalangan aktivis yg menyuarakan perlunya penundaan eksekusi mati Mary Jane. Wrga Filipina ini dianggap bukan sebagai aktor yg terlibat langsung dlm kasus yg dihadapinya
3. Presiden Jokoi mempertimbangkan permohonan dari Presiden Filipina yg telah menemuinya langsung di sela2 penyelenggaraan KTT ASEAN ke 26 di Kuala Lumpur Malaysia 27 / 4 /2015.
Dalam berita ini Presiden Jokowi menyatakan bhw bukan membatalkan tapi menunda.
Ada 2 poin Pernyataan presiden jokowi yg punya penafsiran berbeda
1. menunda krn proses hukum sedang berjalan di filipina apakah ada kemungkinan utk dibatalkan ketika proses hukum itu memutuskan bhw mary jane bukan aktor yg hrs dihukum mati
2. bukan membatal tapi menunda. Apakah meski proses hukum di filipina itu memutus mary jane bukan aktorvyg hrs dihukum mati, maka pelaksanaan hukuman mati itu tetap dilaksanakan di Indonesia ?
Indonesia semakin menarik
Selamat pagi Pak
Selamat pagi Pak
Ada yg bisa sy bantu?
Begitulah sapaan karywan bank dari satpam sampai teller dan cs.
Dalam situasi apapun mereka dituntut harus tetap senyum ramah, berpenampilan rapi cantik dan ganteng yg tujuannya tdk lebih adalah kesan pertama utk menarik simpati, perhatian nasabah/masyarakat.
Tentu sangat berbeda dgn sikap dan penampilan para government officer/pegawai pemerintah yg byk tdk menunjukkan simpati dan profrsional walaupun peningkatan kesejahteraan mereka selalu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Walau saya akui byk sektor pemerintah sedang melakukan perbaikan2 di bid pelayanan kpd masy.
Arti dari status ini adalah bhw rasa nyaman dan aman membuat org susah berimprovisasi.
Harusnya pola rekrutmennya yg hrs dirubah, bahwa mrk dipilih utk melayani masayarat krn yg menggaji mrk adalah masy, sama dgn org bank dr awal sdh di doktrin bahwa sumber gaji nya itu dr uang nasabah makanya nasabah adalah raja....semakin bnyak nasabah semakin tinggi rewardnya....tp klo pegawai td kan ngelayanin atau ga tetep aja pangkat naik dan gaji naik tiap tahun..
Ada yg bisa sy bantu?
Begitulah sapaan karywan bank dari satpam sampai teller dan cs.
Dalam situasi apapun mereka dituntut harus tetap senyum ramah, berpenampilan rapi cantik dan ganteng yg tujuannya tdk lebih adalah kesan pertama utk menarik simpati, perhatian nasabah/masyarakat.
Tentu sangat berbeda dgn sikap dan penampilan para government officer/pegawai pemerintah yg byk tdk menunjukkan simpati dan profrsional walaupun peningkatan kesejahteraan mereka selalu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Walau saya akui byk sektor pemerintah sedang melakukan perbaikan2 di bid pelayanan kpd masy.
Arti dari status ini adalah bhw rasa nyaman dan aman membuat org susah berimprovisasi.
Harusnya pola rekrutmennya yg hrs dirubah, bahwa mrk dipilih utk melayani masayarat krn yg menggaji mrk adalah masy, sama dgn org bank dr awal sdh di doktrin bahwa sumber gaji nya itu dr uang nasabah makanya nasabah adalah raja....semakin bnyak nasabah semakin tinggi rewardnya....tp klo pegawai td kan ngelayanin atau ga tetep aja pangkat naik dan gaji naik tiap tahun..
tanggungjawab bersama.
Di Negara kita saya selalu dengar pemimpin2 di negara ini bilang ketika ada masalah " .........ini tanggungjawab bersama "
Blm pernah ada pemimpin yg bilang " .........ini tanggungjawab saya sebagai pimpinan "
Yang sering juga saya dengar adalah pemimpin menyalahkan bawahan yg mereka pilih sendiri.
Teroris pun di Indonesia tdk ada yg berani bilang bertanggungjawab thd perbuatannya.
Apa mungkin ya krn dari kecil kita selalu dengar kata2 " tanggungjawab bersama" shg spt proses cuci otak bhw kata2 itu sdh sgt melekat di benak kita.
Dan gawatnya juga utk kasus2 tertentu perbuatan jahat /pidana juga bs menjadi bs menjadi tanggungjawab bersama.
JOKOWI berani
JOKOWI VS SUSILO BAMBANG YUDHOYONO.
Baru kudengar melodi harmoni dari Bapak Tantowi Yahya....
Semoga ini merupakan bentuk Apresiasi Murni dari seorang Putra Bangsa...
Baru kudengar melodi harmoni dari Bapak Tantowi Yahya....
Semoga ini merupakan bentuk Apresiasi Murni dari seorang Putra Bangsa...
Tantowi Golkar: Politik Luar Negeri Jokowi Lebih Berani dari SBY By
Putu Merta Surya Putra on 23 Apr 2015 at 15:57 WIB Share Comment
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Wapres Jusuf
Kalla bertemu dengan delegasi Organisasi
Konferensi Islam (OKI) saat KAA ke-60 di Jakarta,
Rabu (22/4/2015). Jokowi mengusulkan
pembentukan gugus tugas negara0-negara Islam.
(Liputan6.com/Herman Zakharia) Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi dinilai lebih berani ketimbang mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam
isu politik luar negari, Indonesia selama ini dinilai
lebih mencari aman dalam menyikapinya.
"Banyak yang menarik dari KAA (Konferensi Asia- Afrika) ini, satu di antaranya keberanian Indonesia
untuk bersuara keras menyatakan sikap. Selama
ini, politik luar negeri kita cari aman dengan
pondasi bebas aktif. Di zaman SBY, politik luar
negeri kita dibuat mandul lagi lewat slogan sejuta
kawan tidak ada musuh," ujar Tantowi di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (23/4/2015).
Sejumlah pihak mengapresiasi pidato Jokowi
tersebut. Bahkan Tantowi mengaku kaget dengan
keberanian pemerintahan Jokowi-JK.
"Kita berani melawan tirani barat yang selama ini
menjajah negara-negara ketiga dengan bantuan dana yang mengikat dan isu HAM. Banggakah kita?
Menurut saya seharusnya kita bangga dengan
sikap ini," tutur Wakil Ketua Komisi I itu.
Karena itu, meski Golkar kubunya berada di Koalisi
Merah Putih (KMP), sikap pemerintah itu harus
didukung penuh karena berani mengambil risiko. "Kalau saya secara pribadi melihat dan menilai
langkah pemerintah (Jokowi-JK) kita terkait politik
luar negeri sangat berani, selayaknya kita dukung
karena untuk pertama kalinya kita berani
mengambil risiko," pungkas Tantowi.
Dalam pidato pada Konferensi Asia-Afrika, Presiden Jokowi menyentil negara-negara maju dan
organisasi perkumpulan negara di dunia. Jokowi
menilai saat ini rakyat di dunia masih dirundung
ketidakadilan.
"Dunia yang kita warisi sekarang masih sarat
dengan ketidakdilan, kesenjangan dan kekerasan global, cita-cita bersama mengenai lahirnya sebuah
peradaban baru, sebuah tatanan dunia baru
berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan
kemakmuran, masih jauh dari harapan," kata
Jokowi, Rabu 22 April 2015.
Dia menambahkan ketidakadilan dan ketidakseimbangan global masih terpampang jelas.
Negara-negara kaya yang hanya 20% penduduk
dunia, menghabiskan 70% sumber daya daya
bumi.
"Ketidakadilan menjadi nyata. Ketika ratusan orang
di belahan bumi sebelah utara menikmati hidup super kaya, sementara 1,2 miliar penduduk dunia
di sebelah selatan tidak berdaya dan
berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka
ketidakadilan semakin kasat mata," jelas Jokowi.
(Ali/Mut) TAGS SBY Tantowi Yahya Jokowi
Kalla bertemu dengan delegasi Organisasi
Konferensi Islam (OKI) saat KAA ke-60 di Jakarta,
Rabu (22/4/2015). Jokowi mengusulkan
pembentukan gugus tugas negara0-negara Islam.
(Liputan6.com/Herman Zakharia) Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi dinilai lebih berani ketimbang mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam
isu politik luar negari, Indonesia selama ini dinilai
lebih mencari aman dalam menyikapinya.
"Banyak yang menarik dari KAA (Konferensi Asia- Afrika) ini, satu di antaranya keberanian Indonesia
untuk bersuara keras menyatakan sikap. Selama
ini, politik luar negeri kita cari aman dengan
pondasi bebas aktif. Di zaman SBY, politik luar
negeri kita dibuat mandul lagi lewat slogan sejuta
kawan tidak ada musuh," ujar Tantowi di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (23/4/2015).
Sejumlah pihak mengapresiasi pidato Jokowi
tersebut. Bahkan Tantowi mengaku kaget dengan
keberanian pemerintahan Jokowi-JK.
"Kita berani melawan tirani barat yang selama ini
menjajah negara-negara ketiga dengan bantuan dana yang mengikat dan isu HAM. Banggakah kita?
Menurut saya seharusnya kita bangga dengan
sikap ini," tutur Wakil Ketua Komisi I itu.
Karena itu, meski Golkar kubunya berada di Koalisi
Merah Putih (KMP), sikap pemerintah itu harus
didukung penuh karena berani mengambil risiko. "Kalau saya secara pribadi melihat dan menilai
langkah pemerintah (Jokowi-JK) kita terkait politik
luar negeri sangat berani, selayaknya kita dukung
karena untuk pertama kalinya kita berani
mengambil risiko," pungkas Tantowi.
Dalam pidato pada Konferensi Asia-Afrika, Presiden Jokowi menyentil negara-negara maju dan
organisasi perkumpulan negara di dunia. Jokowi
menilai saat ini rakyat di dunia masih dirundung
ketidakadilan.
"Dunia yang kita warisi sekarang masih sarat
dengan ketidakdilan, kesenjangan dan kekerasan global, cita-cita bersama mengenai lahirnya sebuah
peradaban baru, sebuah tatanan dunia baru
berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan
kemakmuran, masih jauh dari harapan," kata
Jokowi, Rabu 22 April 2015.
Dia menambahkan ketidakadilan dan ketidakseimbangan global masih terpampang jelas.
Negara-negara kaya yang hanya 20% penduduk
dunia, menghabiskan 70% sumber daya daya
bumi.
"Ketidakadilan menjadi nyata. Ketika ratusan orang
di belahan bumi sebelah utara menikmati hidup super kaya, sementara 1,2 miliar penduduk dunia
di sebelah selatan tidak berdaya dan
berpenghasilan kurang dari 2 dolar per hari, maka
ketidakadilan semakin kasat mata," jelas Jokowi.
(Ali/Mut) TAGS SBY Tantowi Yahya Jokowi
Getar Indonesia
Dengan Sejarah kita bisa melihat masa depan Banyak orang tahu Amerika
kalah perang di Vietnam. Tapi yang tidak banyak orang tidak tahu adalah,
salah satu sebab Amerika kalah di Vietnam adalah Indonesia. Kok bisa?
Simak sejarahnya. Amerika adalah
negara terkuat di dunia selama beberapa abad belakangan ini. Kuat di
bidang ekonomi, kuat di bidang militer. Sekedar untuk menggambarkan
kekuatan militernya, kita bisa melihat dua fakta: Pertama, penerimaan
devisa nomor satu di Amerika adalah dari ekspor senjata, baru kemudian
dari ekspor film. Kedua, PENTAGON, Departemen Pertahanan Amerika Serikat
adalah institusi pemegang hak cipta terbanyak di dunia. Kebanyakan
penemuannya adalah di bidang persenjataan. Artinya, persenjataan Amerika
sudah terbukti paling berkembang di dunia. Dua fakta ini menunjukkan
betapa kuatnya Amerika. Akan tetapi dengan segala kekuatan ini, Amerika
kalah di Vietnam. Setidaknya dari 2,7 juta orang Amerika yang bertugas
dari Vietnam tercatat 58.159 orang tewas, 1.719 hilang, dan 303.635
orang luka- luka (wikipedia). Memang jumlah ini lebih sedikit dari
jumlah orang Vietnam yang tewas, tapi hengkangnya Amerika dari wilayah
Indo Cina tersebut jelas-jelas merupakan fakta sejarah bahwa Amerika
kalah dalam perang Vietnam. Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?
Tentara Amerika kalah dalam perang Vietnam karena tidak mampu menghadapi
serangan gerilyawan Vietcong. Gerilyawan Vietcong sangat mengusai medan
pertempuran di hutan-hutan. Mereka sangat menguasai teknik perang
bergerilya. Lalu darimana gerilyawan Vietkong belajar perang gerilya
yang hasilnya menang perang lawan Amerika? Disinilah hubungannya perang
Vietnam dan Indonesia. Beberapa pimpinan gerilyawan Vietkong mengatakan
bahwa mereka membaca buku “Pokok-Pokok Perang Gerilya” karangan Jendral
AH Nasution dan menjadikannya pedoman mereka dalam menetapkan strategi.
Nasution adalah salah seorang dari 3 Jenderal Besar bintang 5 di
Indonesia. Vietcong tidak berpatokan pada Mao Tse Tung yang juga ahli
perang gerilya karena kondisi alam dan masyarakatnya berbeda. Kondisi
alam dan masyarakat yang paling mirip dengan Vietnam adalah Indonesia
dan itu ada dalam buku karangan Nasution (Dr. Salim Said dan Saleh A
Djamhari –sejarawan UI- mengatakan hal ini dalam beberapa seminar). Jadi
tidak berlebihan kalau dikatakan, Amerika kalah perang (salah satunya)
karena Indonesia. Apa hikmahnya? Tentu saja tulisan ini untuk membangga-
banggakan sebuah perang dengan jutaan korban. Tetap saja perang adalah
bencana, dan kita berdoa agar tidak terjadi lagi. Akan tetapi fakta di
atas menunjukkan bahwa pemikiran seorang anak bangsa Indonesia bisa
mempengaruhi peta dunia. Karena itu jangan ragu untuk berkarya dan
menuangkan pikiran kita, karena pemikiran tidak mengenal batas tempat
dan waktu. Fakta sejarah ini juga menunjukkan sekali lagi kekuatan
sebuah tulisan atau sebuah buku. Jutaan orang mungkin punya pengalaman
perang gerilya, tapi akhirnya yang bisa menjadi referensi adalah yang
menulis. Setelah kekalahannya di Vietnam, Amerika berusaha kembali
menaikkan citra dan harga dirinya. Puluhan film-film bertemakan perang
Vietnam seperti film Rambo dan film serinya “Tour of Duty”. bermunculan
dengan sudut pandang Amerika menang melawan gerilyawan Vietnam. Belajar
dari Vietnam, Amerika kini menghindari perang langsung kecuali didahului
serangan udara bertubi-tubi. Lalu apa yang bisa kita pelajari dari
perang Vietnam? Ya , kita bisa belajar bahwa kita tetap punya kesempatan
untuk bangkit, kita tetap punya kesempatan untuk menang. Pertempuran
kita saat ini bisa berwujud banyak bentuk. Saat ini kita bertempur
secara ekonomi, budaya, politik, dsb. Jika kita tidak mempersiapkan diri
dari sekarang, kita bisa terjajah secara ekonomi, budaya, politik, dsb.
Jangan bersantai-santai, karena bangsa kita bisa jadi korban tergilas
kemajuan zaman, karena tidak mampu mengejar persaingan. Bangsa besar
yang mungkin lebih harus kita cermati saat ini justru Cina. Saat ini
Cina adalah kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika, setelah
tahun ini melampaui Jepang. Dalam waktu tidak terlalu lama diduga Cina
akan mampu melampaui Amerika. Kebijakan ekonomi Cina saat ini mengimpor
begitu banyak gas alam dan batu bara dari Indonesia, bahkan mereka
menumpuk-nya untuk cadangan energi. Negara Cina punya material tersebut
di tanah mereka tetapi mereka memilih untuk mengimpor dari Indonesia.
Kenapa? Lihat 10 - 20 tahun mendatang. Bisa jadi kita kehabisan batu
bara dan gas alam (sekarang kita minyak bumi sudah mengimpor) dan ketika
harga energi melambung tinggi mungkin kita justru mengimpor dari Cina
dengan harga sangat mahal. Di bidang moneter (finansial) Cina juga
sedang berbenah. Cina juga membeli berton-ton emas sebagai cadangan
devisanya (Negara Cina sendiri percaya ke depan cadangan emas lebih kuat
dari dollar Amerika). Langkah ini untuk memperkuat cadangan devisa
dollar Amerika milik Cina yang bahkan jumlahnya lebih banyak dari milik
Amerika sendiri. (Baca No Excuse! by Isa Alamsyah halaman 141-148,
sangat menyakitkan tapi akan membangkitkan semanagat Anda membangun
bangsa) Jika pemimpin negara kita tidak mencermati keadaan ini, maka
masa depan bangsa cukup mengkhawatirkan. Kini saatnya kita sebagai
individu berusaha menyelamatkan bangsa dimulai dari diri sendiri.
Memulai dari diri sendiri dengan membangun keluarga yang kuat. Memulai
dengan membangun keluarga yang mempunyai cita-cita tinggi dengan spirit
No Excuse! Menyiapkan keluarga yang kebal krisis dengan konsep Think
Dinar. Membangun jalinan keluarga berbasis Sukinah Suputra. Ingat tantangan masa
depan akan jauh lebih berat!
hebatnya Pancasila dan Bhineka tunggal ika
hebatnya Pancasila dan Bhineka tunggal ika
Sabtu, 25 April 2015
Obyektif
Jangan enggan atau malu mengkritik pilihan kita, sebab orang yang kita
pilih bukan malaikat. Tapi jangan pelit juga untuk memuji, kalau memang
layak mendapat pujian.
Obyektiflah.
Rakyat disuruh berhemat dengan pengurangan subsidi BBM, sedangkan parpol diusulkan diberi kucuran dana 1 triliun per partai. Sungguh tidak masuk akal. Seolah-olah Indonesia sudah begitu mapan. Ruang fiskal untuk pembangunan saja sangat sempit, alias pas-pasan. Kebutuhan primer saja belum terpenuhi, malah sudah ngambil kebutuhan sekunder.
Semoga tidak disetujui oleh presiden. Walaupun itu sebatas usulan, tapi rasanya melukai hati rakyat yang sedang tertimpa kesusahan oleh kenaikan harga-harga.
Indahnya demokrasi yang semakin matang ini. Presiden lebih mendengar suara rakyat, ketimbang elit politik. Lebih indahnya lagi, beliau adalah sosok yang tidak anti terhadap kritik.
Obyektiflah.
Rakyat disuruh berhemat dengan pengurangan subsidi BBM, sedangkan parpol diusulkan diberi kucuran dana 1 triliun per partai. Sungguh tidak masuk akal. Seolah-olah Indonesia sudah begitu mapan. Ruang fiskal untuk pembangunan saja sangat sempit, alias pas-pasan. Kebutuhan primer saja belum terpenuhi, malah sudah ngambil kebutuhan sekunder.
Semoga tidak disetujui oleh presiden. Walaupun itu sebatas usulan, tapi rasanya melukai hati rakyat yang sedang tertimpa kesusahan oleh kenaikan harga-harga.
Indahnya demokrasi yang semakin matang ini. Presiden lebih mendengar suara rakyat, ketimbang elit politik. Lebih indahnya lagi, beliau adalah sosok yang tidak anti terhadap kritik.
Langganan:
Postingan (Atom)