Senin, 20 Januari 2020

Penyebab Hutan Aokigahara Menjadi Tempat Favorit Untuk Mengakhiri Hidup



Pepohonan hutan Aokigahara. Bahkan pada siang haripun terasa gelap.




Jalan setapak di Aokigahara


Aokigahara (青木ヶ原) adalah hutan yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, membentang dari kota Kawaguchiko hingga desa Narizawa, Prefektur Yamanashi. Aokigahara disebut juga "hutan lautan pohon" dan "lautan pohon gunung Fuji". Disebut demikian karena jika angin meniup pepohonan di sana terlihat seperti keadaan ombak di laut. Usia hutan ini diperkirakan sekitar 1200 tahun. Hutan ini dikenal sebagai tempat bunuh diri populer di Jepang.




Quote:
Hutan Aokigahara yang terkenal sebagai tempat favorit untuk mengakhiri hidup. Fenomena ini mulai muncul semenjak terbitnya novel “Kuroi Jukai” karya Seicho Matsumoto. Novel yang terbit pada 1960 ini, menceritakan tentang dua orang yang dimabuk cinta dan berkomitmen untuk mengakhiri hidupnya demi cintanya di hutan tersebut. Namun, sejarah Aokigahara sebagai tempat bunuh diri sudah ada jauh sebelum novel itu beredar. Aura kematian sudah lama tercium dari hutan ini. RitualUbasute, menyepi hingga ajal menjemput, dilakukan di hutan tersebut sejak abad ke-19. Dan sejak tahun 1950, lebih dari 500 orang telah mengakhiri hidupnya di hutan ini, rata-rata tiap tahunnya ada sekitar 30 orang yang bunuh diri di Hutan Aokigahara.

sumber: Novel Sakura Wish
hal 136-137




Quote:
Buku lain, The Complete Manual of Suicide (1993) karya Wataru Tsurumi, menggambarkan Aokigahara sebagai 'tempat sempurna untuk meninggal dunia'. Buku-buku itu terjual jutaan eksemplar.




Quote:
Quote:


Pernahkah kamu mendengar Ubasuteyama? Ubasuteyama (Gunung Pembuangan Nenek) merupakan cerita legenda rakyat Jepang tentang tradisi membuang orang yang sudah tua di gunung. Entah cerita ini benar terjadi di masa lalu atau tidak, Ubasuteyama menjadi salah satu kisah yang sangat populer di Jepang.


Ubasuteyama adalah tradisi membuang kerabat atau anggota keluarga yang sakit atau lanjut usia ke tempat terpencil untuk mati. Secara harfiah, ubasute sendiri berati "pembuangan." Dalam kisah masyarakat Jepang zaman dulu, ubasute berati membuang orang tua. Tradisi mengerikan ini dilakukan di hutan, tepatnya di kaki Gunung Fuji, yakni di Hutan Aokigahara yang dikenal juga sebagai hutan bunuh diri masyarakat Jepang.

Kisah yang beredar di rakyat Jepang sendiri mengenai kisah anak laki-laki yang harus membuang ibunya yang sudah tua ke gunung demi mengurangi jatah orang yang harus diberi makan di rumahnya.

Asal-usul Ritual Ubasute
Ada banyak mitos yang menceritakan asal mula tradisi ini. Salah satunya akibat letusan Gunung Asama di tahun 1783 yang memicu gagal panen dan kelaparan besar sehingga masyarakat di sana harus membuang anggota keluarga mereka yang sudah lansia dan tidak bisa berbuat apa-apa ke gunung untuk mengurangi jumlah mulut yang harus diberi makan.

Orang tua yang bawa ke gunung akan ditinggalkan sendirian, bisa dengan perbekalan makanan atau tidak. Nantinya orang tua itu akan menemui ajal entah karena mati kelaparan setelah bekal mereka habis, kedinginan, dehidrasi, dan yang paling mengerikan dimakan binatang buas.

Meskipun begitu tradisi mengerikan ini telah dihapuskan di masa lalu.


Quote:
Ada dua cerita yang menjelaskan mengapa tradisi ini dihapuskan.


Kisah pertama bercerita tentang seorang raja yang membenci orang tua. Saking bencinya, ia membuat peraturan untuk membuang orang tua yang telah berusia lebih dari 70 tahun ke pengasingan. Orang-orang yang tidak mau mengikuti peraturan raja akan dihukum berat dan mau tidak mau mereka mengikuti perintah raja.

Namun salah satu menteri raja sangat mencintai ibunya sehingga ia menggali ruang rahasia di rumahnya dan menyembunyikan ibunya yang berusia 70 tahun. Hingga suatu hari penguasa kerajaan tetangga mengirimkan teka-teki berupa dua ekor kuda identik pada raja.

Raja diberikan kesempatan satu kali menebak untuk mencari tahu yang mana induk kuda dan yang mana anaknya. Apabila raja gagal menjawab maka kerajaannya akan diserang. Raja yang merasa daerah kekuasaannya terancam meminta nasihat dari pendeta dan para menteri.

Mendengar permintaan raja, kemudian salah seorang menteri memohon izin untuk mencari tahu arti teka-teki tersebut pada seseorang yang ia kenal. Ia pun mencari tahu jawabannya dari sang ibu. Sang ibu lalu menyuruh anaknya itu untuk memberikan kedua kuda itu rumput.

Sang menteri kemudian kembali sambil membawa rumput dan memberikannya kepada dua kuda tadi. Saat diberikan, salah satu kuda mundur dan membiarkan kuda satunya untuk memakan rumput tersebut. Sang menteri pun memberi tahu raja bahwa kuda yang mundur merupakan induknya.


Jawaban ini ternyata benar, dan sang raja menjadi sekutu dengan penguasa tetangga. Raja yang terkesan kemudian menanyakan sang menteri kenapa ia bisa mengetahui hal tersebut. Sang menteri lantas menceritakan kebenarannya bahwa ia menyembunyikan ibunya dan sang ibu yang memberitahu jawabannya. Orang tua selalu mendahulukan anaknya dan tidak akan membiarkannya kelaparan.

Mendengar jawaban ini sang raja sadar dan menghapus tradisi pembuangan orang tua.


Cerita kedua menceritakan seorang pria yang tengah membuang ibunya yang sudah tua. Di sepanjang perjalanan sang ibu yang digendong mematahkan ranting dari keranjang yang ia bawa.

Ketika sang ibu diletakan di tengah hutan, ia berpisah dengan anaknya dan berkata "ikutilah jejak ranting yang kupatahkan agar kamu bisa pulang, dan bawa keranjang ini dan lakukan hal yang sama saat kau membuang ayahmu."

Jawaban ini membuat sang anak tidak kuasa menahan air mata dan memutuskan untuk membawa kembali ibunya pulang ke rumah. Meskipun tahu akan dibuang, sang ibu masih tetap memikirkan keselamatan anaknya. Sejak peristiwa tersebut, tradisi pembuangan orang tua menghilang.

Konon katanya novel Kuroi Jukai ini mendorong orang-orang untuk melakukan bunuh diri di Hutan Aokigahara.

Mungkin novel-novel tersebut dan Aokigahara telah memberikan semacam sugesti kepada orang yang depresi.

Mengapa orang Jepang ingin bunuh diri di Aokigahara?

"Banyak orang telah bunuh diri di Aokigahara, dengan begitu Anda tidak akan mati sendirian. Itu sebabnya, orang-orang mau bunuh diri di sana karena bagaikan ada teman atau orang-orang lain yang mendukungnya"


Biarlah Aokigahara Menjadi Daya Tarik Tersendiri Bagi Industri Pariwisata Jepang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar